Kliping Pekan Ke-5 Tahun 2010

Pekan Kelima 2010

Kliping pekan ini saduran dari:

Keuntungan Bruto iPad Apple 40% Produsen Taiwan Kecipratan

Perusahaan Apple tanggal 27 Januari memperkenalkan komputer tablet iPad, harganya yang paling murah dijual 499 dollar Amerika (sekitar 16.000 NT), harga yang cukup menggiurkan.

Analis mengatakan modal untuk pembuatan iPad hanya 290,5 dollar Amerika. Dengan lain kata meski iPad Apple dengan harga yang paling murah, tetapi setiap unit tetap menghasilkan keuntungan sebesar 208,5 dollar Amerika per unit ( sekitar 6677 NT). Keuntungan brutonya mencapai 40%. Keuntungan bahkan melebihi 50% dari penjualan iPad yang lebih tinggi harganya. Oleh karena ini, perusahaan produk elektronik Taiwan Foxconn dan Wintek yang merupakan salah satu dari pensuplainya juga kecipratan keuntungan.
Dengan harga jual yang murah itu, perkiraan 2 juta unit yang akan terjual tahun ini dikoreksi naik menjadi 7 juta unit. Analis mengatakan kalau harga iPad nanti diturunkan lagi, pasaran Notebook kemungkinan besar akan terpukul.

—————————————————–

Jumlah Pelayar Internet di China Menduduki Tempat Pertama di Dunia

Pada tahun 2009, pelayar internet di China bertambah lebih 80 juta orang menjadikan jumlah pelayar tetap internet 384 juta orang yang menduduki tempat pertama di dunia. Ini terkandung dalam statistik yang diumumkan Kementerian Industri dan Teknologi Maklumat China hari ini.

Menurut statistik tersebut, pelayar internet yang menggunakan jalur lebar adalah lebih 90% daripada jumlah pelayar internet di China, antaranya pelayar internet dari kampung melebihi 100 juta orang, manakala terdapat 233 juta orang yang melayari internet melalui telefon bimbit.

Bagaimanapun, kadar penggunaan internet di China tidak mencapai 30%, masih jauh berbanding dengan kadar penggunaan internet di A.S. dan Jepun yang melebihi 70%.

————————————————–

ABG Target Baru Kejahatan Cyber

Polisi Surabaya menahan dua orang yang dituduh merekrut anak-anak berusia 15 hingga 16 tahun untuk menjadi pekerja seks.

Proses pendekatan dilakukan lewat internet, antara lain lewat chatting dan jaringan facebook. Alasan para pelajar bersedia dijadikan psk, karena mereka ingin mempunyai barang-barang mewah seperti telpon genggam dan sebagainya. Gita, reporter Radio Suara Surabaya melaporkan:

“Satu orang perempuan, satu orang laki-laki. Yang perempuan sebagai mucikari, sedangkan yang laki-laki perantara antara pelanggan dengan si mucikari. Jadi yang laki-laki namanya Hafis, yang perempuan namanya Key. Si Hafis ini bertugas untuk menarik pelanggan lewat internet atau lewat chatting di MSN, YM atau Facebook. Dia memasang foto-foto perempuan yang akan ditawarkan lewat akun Facebook.”

Modus baru
Menurut Nur Lailiyah dari LSM anak dan perempuan Samitra Abaya di Surabaya, cara pendekatan lewat cyber adalah baru dan pertama kali khususnya di Jawa Timur. Karena perkembangan teknologi tidak bisa dicegah, maka kasus baru ini sangat mengkhawatirkan:

“Kalau yang lewat internet ini terus-terang sepertinya masih baru. Karena kami juga baru mengetahui dari kasus yang baru saja dibongkar. Sebelumnya modus yang digunakan justru merekrut langsung – bukan melalui media elektronik.”

Pemahaman
“Untuk melindungi remaja, melarang sama sekali jelas tidak mungkin. Karena ini terkait perkembangan teknologi. Yang penting adalah memberikan pemahaman terhadap mereka bahaya trafficking dan modus-modusnya di Facebook.”

Apakah UU perlindungan hak anak dan UU trafficking yang baru saja diberlakukan 2007 lalu, bisa melindungi anak-anak ABG dari kejahatan cyber seperti ini? Radio Nederland menanyakan kepada Seto Mulyadi dari Komnas Anak, apa yang bisa dilakukan pemerintah Indonesia:

“Ini juga sudah dikampanyekan oleh Kementrian Kominfo untuk menciptakan perlindungan-perlindungan terhadap anak lewat internet. Namun ini tidak mudah, karena juga menyangkut IT yang cukup kompleks.”

“Komnas mengajak semua pihak – termasuk media massa – untuk mengkampanyekan kepada para orangtua untuk menjadi sahabat anak-anak dan remaja. Supaya semua permasalahan bisa dibicarakan dengan orangtua. Sekarang, komunikasi anak sudah ada pada tingkat yang tinggi sehingga komunikasi ini hanya bisa diawasi dan dikontrol dengan adanya komunikasi efektif antara orangtua dan anak-anaknya.”

——————————————————–

150 Tahun Max Havelaar, Simbol Ketimpangan di Hindia-Belanda

Selasa 2 Februari kemarin, di aula Universitas Amsterdam, belanda dibuka pameran 150 tahun Max Havelaar, karangan Multatuli atau Eduard Douwes Dekker. Salah satu buku terpenting dalam sejarah sastra Belanda dan selalu menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah.
Buku ini telah diterjemahkan di 40 bahasa dan difilmkan baik dalam bahasa Belanda maupun Indonesia. Menceritakan ketimpangan pemerintahan Hindia-Belanda di abad ke-19, tapi pesan Multatuli masih tetap berlaku hingga saat ini. Laporan Fediya Andina.

Job Cohen:
“Dan kepada tuan saya mempersembahkan buku ini, Willem III, raja, adipati besar, pangeran dan kaisar dari Insulinde yang cantik dan kaya, Jamrud Khatulistiwa, karena di tempat itu lebih dari 30 juta rakyatmu dianiaya dan diperas atas nama tuan”

Demikian walikota Amsterdam Job Cohen, membaca halaman terakhir dari buku Max Havelaar, karangan Multatuli atau Eduard Douwes Dekker, sewaktu pembukaan pameran 150 tahun Max Havelaar di Aula Universitas Amsterdam, Selasa kemarin. Pameran yang menandai dimulainya Tahun Multatuli, dengan judul “Ini bukan Roman, Ini sebuah Gugatan”. Gugatan atas tindak korupsi dan ketidak-adilan yang dilakukan para pejabat Indonesia dan Belanda ketika itu di Lebak, Serang. Sebuah cerita bagaimana Douwes Dekker dan keluarganya menghadapi situasi yang menyedihkan ketika itu.

Tepatnya 15 Mei 1860 buku tersebut diluncurkan penerbit De Ruyter di Amsterdam, dengan judul Max Havelaar, of de Koffie-veilingen der nederlandsche Handelsmaatschappij, Max Havelaar atau Pelelangan Kopi Perusahaan dagang Belanda. Dengan gaya tulisan yang satiris, Multatuli yang artinya – saya banyak menderita – menceritakan budaya berdagang Belanda yang hanya mencari untung di satu sisi tapi dilain pihak sangat menggurui dan sok suci seperti seorang pendeta. Multatuli menggugat pejabat kolonial yang korup dan memuji mereka yang berusaha mendobrak ketimpangan tersebut.

Jos van Waterschoot, konservator dan pembuat pameran ini menerangkan, pameran kali ini tidak menceritakan sejarah buku tersebut, melainkan mengenai pesan yang dikandung buku tersebut, gugatan atas ketidak-adilan di Hindia-Belanda. Karena itu pameran dibagi dalam sejumlah tema:

Waterschoot
Ruang pertama memperlihatkan kekayaan dan kemiskinan di Hindia- belanda ketika itu. Orang bisa berkenalan dengan tokoh-tokoh yang ada di buku Max Havelaar, dan apa peran mereka di ruang kedua. Di ruang ketiga kami menyinggung sedikit tentang sejarah tapi juga masa depan buku ini, yaitu apakah gugatan Multatuli masih tetap aktual. Apakah masih banyak orang yang dianiaya dan diperas, jawabannya adalah ya, tentu saja. Dan karena itu kita harus bertindak.

Pesan lain dari pameran 150 tahun Max Havelaar menurut Waterschoot adalah, bangsa Belanda tidak lupa apa yang mereka lakukan ketika masih menjadi penjajah, penguasa koloni di Hindia-Belanda. Belanda sekarang telah belajar dari masa lalu. Misalnya saat ini di Belanda ada produk kopi, teh dan barang-barang lainnya dengan merek Max Havelaar. Produk-produk Max Havelaar dijamin diperoleh dengan harga yang menguntungkan para petani dan produsen di dunia ketiga.

Sewaktu pembukaan tahun Multatuli ini juga dipresentasikan penulisan baru buku Max Havelaar. Edisi terbaru ini menggunakan bahasa Belanda sehari-hari anno 2010, lebih kompak dan tipis dari buku aslinya. Menurut Asosiasi Multatuli, yang merupakan pemberi perintah penulisan buku, hampir 40% isi buku yang lama ditiadakan, karena bahasanya yang terlalu sulit dan bertele-tele. Gijsbert van Es, anggota redaksi harian NRC yang menulis kembali buku tersebut menerangkan, terbitan terbaru ini ditujukan untuk generasi muda Belanda sekarang. Selain itu pesan yang disampaikan Max Havelaar masih tetap aktual, di Belanda, Indonesia dan bagian dunia lainnya.

Van Es:
“Ini sebuah buku yang menentang pemerasan, penindasan, dan sebuah buku yang membela pemerintahan yang baik. Di semua diskusi mengenai kerjasam pembangunan selalu ditekankan tema ‘good governance’ dan di semua diskusi mengenai perdagangan dunia selalu disinggung tentang ‘fair trade’. Karena itu Max Havelaar masih tetap hidup dan aktual hingga sekarang.”

Max Havelaar masuk ke dalam daftar buku yang wajib dibaca para pelajar sekolah menengah di Belanda. Banyak guru yang telah membaca terbitan terbaru, antusias murid-murid mereka lebih dapat mengerti pesan yang ingin disampaikan Multatuli. Tetapi apakah Eduard Douwes Dekker menyetujui bahwa bukunya ditulis kembali dan ada bagian yang dikurangi? Salah seorang penulis Belanda ternama yang juga hadir malam itu, Harry Mulisch mengatakan, “Saya tidak akan pernah mau, buku saya ditulis atau digubah kembali seperti Max Havelaar”.

Multatuli
Max Havelaar of de Koffieveilingen van de Nederlandse Handelsmaatschappij

Ditulis kembali dan disesuaikan oleh: Gijsbert van Es
Penerbit: nrcboeken
ISBN: 978 90 79985 15 9

Situs 150 tahun Max Havelaar: www.multatulimuseum.nl

Leave a comment

Your comment