Kliping Pekan ke-24

Dapatkan Pekerjaan Idaman dengan Blog

VOA, Arif Budiman, Rauf Prasodjo Rabu, 02 Juni 2010

Blogging ternyata bisa menjadi cara jitu untuk mencuri perhatian perusahaan-perusahaan.

Gbr_001

Dengan menelusuri blog-blog, perusahaan-perusahaan itu dengan mudah memperoleh calon pekerja potensial setelah mengamati isi blog mereka.

“Blogging bisa menjadi cara untuk menunjukkan keunggulan Anda dibanding para pesaing lain,” ujar Liz Lynch.

Popularitas blogging saat ini semakin meningkat.  Di Amerika,  banyak perusahaan kini mendapati blog sebagai satu cara baru mendapatkan calon pekerja yang mereka inginkan.

Dengan menelusuri blog-blog, perusahaan-perusahaan itu dengan mudah memperoleh calon pekerja potensial setelah mengamati isi blog mereka. Liz Lynch adalah pendiri Center for Networking Excellence, dan penulis buku ‘Smart Networking.’

“Mengingat tingkat pengangguran yang tinggi dewasa ini, Anda perlu melakukan tindakan ekstra. Blogging bisa menjadi cara untuk menunjukkan keunggulan Anda dibanding para pesaing lain,” ujar Lynch

Melalui blog di internet, para perekrut bisa mendapatkan informasi lebih jauh mengenai para pelamar. Blogger biasanya menuliskan secara panjang lebar mengenai kehidupan mereka, termasuk soal pekerjaan.

Dengan membaca blog, para perekrut mendapat kesempatan untuk tidak hanya mengetahui tingkat keahlian seseorang pada suatu bidang pekerjaan, tapi juga mengenali keahlian dan gaya menulis atau  berkomunikasi calon pekerja.

Lantas bagaimana cara membuat blog yang baik dan bisa menarik perhatian perusahaan? Lynch mengatakan, kita harus  fokuskan blogging pada keahlian di bidang di mana perusahaan yang kita incar kemungkinan membutuhkan keahlian itu. “Blogging bisa menjadi petunjuk kuat mengenai minat, pengalaman dan pengetahuan Anda,” ujar Lynch.

Jadi, blog tidak hanya menjadi sarana untuk mengekspresikan diri, tapi bisa sekaligus menjadi sarana untuk mempromosikan diri dan keahlian Anda. Silahkan mencoba dengan memulai blog Anda.

——————————————–

Pencuri tiket Piala Dunia dipenjara

Gbr_002

FIFA anjurkan penonton beli tiket di tempat-tempat resmi

Pengadilan khusus Piala Dunia menjatuhkan hukuman penjara tiga tahun kepada seorang warga Nigeria karena memiliki 30 karcis Piala Dunia curian.

Kendaraan Kunle Benjamin dihentikan di ibukota Afrika Selatan, Pretoria, ketika polisi melihatnya menyetir secara “membahayakan”.

“Karena tertuduh berperilaku mencurigakan polisi kemudian menggeledahnya dan ditemukan 30 tiket curian itu,” ujar juru bicara polisi Afrika Selatan, Sally de Beer.

Lebih dari 50 pengadilan khusus dibentuk untuk mengatasi kejahatan yang berhubungan dengan penyelenggaraan Piala Dunia Afrika Selatan.

Polisi mengatakan Benjamin tidak bisa memberitahu pengadilan bagaimana dia bisa memiliki tiket-tiket itu.

FIFA mengatakan berhasil mengungkap bahwa tiket-tiket itu dibeli oleh dua orang lewat internet, tetapi alamat mereka tidak bisa ditemukan.

“Ini adalah contoh keefektifan membentuk tim-tim khusus…yang berurusan dengan kejahatan terkait Piala Dunia,” ujar Sally de Beer.

FIFA mendesak penggemar sepakbola untuk membeli tiket dari tempat-tempat resmi yang ditunjuk badan itu.

———————————————

Pencak Silat, Partisipasi Indonesia di Piala Dunia

VOA, Herman Hakim Jumat, 18 Juni 2010

Piala Dunia 2010 yang kini tengah berlangsung di Afrika Selatan merupakan pendorong besar bagi kehadiran pencak silat Indonesia di Afrika ketika panitia mengikutsertakan kelompok pencak silat di Afrika Selatan yang bernama Al-Azhar dalam rangkaian acara pembukaan Piala Dunia 2010.

PencakSilatAlAzhar

Pencak Silat ” Al Azhar’ cabang Afrika Selatan berpartisipasi dalam pembukaan Piala Dunia 2010. Pencak Silat yang diperkenalkan oleh orang Indonesia cukup berkembang di Afrika Selatan.

Pencak silat Al-Azhar juga sudah menjadi anggota resmi komite olahraga nasional Afrika Selatan. Jadi, pencak silat Indonesia sudah diakui pemerintah Afrika Selatan.

Seni bela diri sudah menjadi komoditas yang memberi penghidupan bagi pelatihnya dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik bagi para muridnya. Olahraga pencak silat Indonesia pun demikian. Dalam beberapa tahun terakhir, pencak silat berkembang menjadi komoditas ekspor, menyusul seni bela diri karate, kendo, dan taekwondo asal Jepang dan kawasan Asia Timur lainnya yang sudah mendunia sejak lama, terutama di Amerika.

Piala Dunia 2010 yang kini tengah berlangsung di Afrika Selatan merupakan pendorong besar bagi kehadiran pencak silat Indonesia di Afrika ketika panitia mengikutsertakan kelompok pencak silat di Afrika Selatan yang bernama Al-Azhar dalam rangkaian acara pembukaan Piala Dunia 2010.

Padahal, pencak silat baru masuk ke sana  tahun 2009.  Kelompok ini pun punya cabang di Amerika yakni di Virginia dan Washington D.C. dengan sekitar 100 murid.

Berikut cuplikan percakapan Herman Hakim  ( HH ) dengan ketua pencak silat Al-Azhar Afrika Selatan, Sariat Arifia, ( SA ), seorang pengusaha jasa pengiriman  barang ekspor-impor yang sudah dua tahun berdomisili di Johannesburg.

HH :Bagaimana ceriteranya sehingga pencak silat Al-Azhar ikut ambil bagian dalam acara pembukaan Piala Dunia 2010?

SA :Kami mendapat banyak bantuan dan dukungan dari Kedutaan Republik Indonesia di Afrika Selatan dan Kementerian Pemuda dan Olahraga. Ini yang membuat kelompok pencak silat kami bisa masuk ke dalam rangkaian acara pembukaan Piala Dunia yang berlangsung di Burger Park dan Super Sport Stadium di Pretoria, ibukota Afrika Selatan. Pementasan kami ditonton ribuan orang diliput media secara besar-besaran.

HH : Penampilannya bagaimana?

SA : Seperti biasa kami mainkan jurus tangan kosong, kemudian ganda senjata seperti golok, celurit, toya  serta beberapa ganda tangan kosong yang bersifat bela diri praktis.

HH :Apakah murid-muridnya mayoritas  orang Afrika Selatan keturunan Indonesia atau asli Afrika ?

SA :Mayoritas orang Afrika Selatan. Soalnya, populasi warga Afrika Selatan keturunan Indonesia (suku Bugis) di Johannesburg dan Pretoria ini sangat kecil. Mereka kebanyakan di Capetown, kurang lebih 1300 kilometer dari Johannesburg.

HH : Masa depan pencak silat bagaimana?

SA :Kami berharap dalam dua tahun ini, pencak silat bisa subur dan bisa menghasilkan pelatih-pelatih pencak silat warga asli Afrika Selatan. Dalam kurun waktu itu juga kami memperluas pencak silat ke 12 negara di sekitar Afrika Selatan. Jumlah murid bisa berlipat-lipat sampai 3000 hingga 4000 orang.

HH : Bagaimana  kisah pencak silat masuk Afrika Selatan ?

SA :Kami baru saja merintisnya sejak tahun 2009. Kami kirim tujuh pesilat dan melakukan promosi selama satu bulan penuh. Mulai tahun 2010 ini, kami membuka kelas-kelas di tempat-tempat yang sudah memungkinkan untuk membuka perguruan silat. Dengan bekal itu, kami mulai diikutkan dalam event-event besar di Afrika Selatan. Pencak silat Al-Azhar juga sudah menjadi anggota resmi komite olahraga nasional Afrika Selatan. Jadi, pencak silat Indonesia sudah diakui pemerintah Afrika Selatan.

HH : Pencak silat merupakan bagian dari cabang bela diri dari negara-negara lain di Afrika Selatan. Dari mana saja?

SA : Olahraga bela diri yang mayoritas adalah dari Jepang. Karate hampir berada di setiap kecamatan di seluruh Afrika Selatan. Ada juga kendo dan taekwondo. Jadi, pencak silat itu benar-benar baru.

———————————————–

Dulu Buta Huruf, Kini Wartawan

Jawa Tengah punya angka buta buruf yang tinggi, termasuk tiga besar angka buta huruf se-Indonesia. 60% di antaranya adalah perempuan, tinggal di pedesaan, minim akses ekonomi dan informasi.
Di Kabupaten Semarang, upaya memberantas angka buta huruf dilakukan dengan cara unik, yaitu membuat Koran Pasinaon. Wartawannya adalah ibu-ibu yang dulunya buta huruf.

Wartawan koran ini adalah ibu-ibu paruh baya. Dulu, mereka buta huruf. Kini, mereka handal menulis artikel untuk Koran Pasinaon.

Curhat warga
Koran Pasinaon terbit awal 2010. Meski namanya koran, terbit hanya sebulan sekali, dengan tebal sepuluh halaman. Uniknya, sebagian isi koran berupa tulisan tangan dari wartawannya. Isinya dari berita utama, surat pembaca, tips masak sampai curhat warga.

Tirta Nursari adalah pengajar di Taman Baca Pasinaon, cikal bakal Koran Pasinaon.

“Kontribusi tulisan sudah banyak. Seperti Bu Rumini, produktif untuk puisi. Semua edisi adalah tulisan dia. Saya lagi memotivasi yang lain menulis puisi, tapi belum. Kontribusi kedua tips kesehatan, masak-masak, suara perempuan ala mereka.”

Sugimah, nenek 12 cucu ini, aktif memasok tips memasak. Tips ditulis dari pengalaman masaknya sehari-hari.

“Membuat kue lapis. Bahannya 1 kilogram tepung beras, setengah kilogram tepung pati, 1 kilogram gula pasir, gula kelapa, dikukus 1 gelas. Kalau sudah dilihat sudah halus, dikasih lagi 1 gelas. Kalau sudah halus dikasih lagi. 1 loyang 16. Niki mbahe yang sudah pernah masak ini terus mbah tulis lagi untuk dimasukkan koran. Pokonya mbahe nulis..ya mau..”

Siapa pun bisa mengusulkan tulisannya masuk Koran Pasinaon. Tinggal datang ke kantor redaksi, jelas Tirta Nursari.

“Kami sediakan kotak di situ. Ada box plastik. Kalau saya tidak ada di rumah, mereka mau kirim tulisan, silakan masukkan di situ. Tapi kalau saya ada penugasan, ada liputan apa dan harus dibikin konsep wawancara mereka agak bingung membuatnya. Bikin di sini, kita beri media bikin seperti ini mereka nulis di sini juga.”

Tak lulus SD
Rumini wartawan terbaik Koran Pasinaon. Perempuan 43 tahun ini tidak lulus SD, dulu tidak lancar membaca dan menulis.

“Saya merasa senang sekali karena selain ketemu sama pejabat-pejabat besar bertemu orang luar. Saya rasa dengan hangatnya mereka menerima saya. Jadi nggak ada masalah. Saya rasa biasa saja seperti ketemu mbak Ita atau teman-teman yang lain.”

Tak mudah melatih ibu-ibu paruh baya ini kembali belajar membaca dan menulis. Salah satu pengajar di Taman Baca Pasinaon Musarofah bercerita, kendala tersulit adalah komunikasi.

Semangat baru
Koran Pasinaon kini jadi semangat baru bagi ibu-ibu bekas penyandang buta huruf di Kabupaten Semarang. Setiap hari mereka rajin datang ke kantor redaksi, berlomba-lomba mengirimkan tulisan. Masyarakat juga senang. Setiap bulan, koran terbit sebanyak 1000 eksemplar, gratis bagi siapa pun yang mau membaca.

Fatimah, tokoh perempuan di Kecamatan Bergas mengatakan, media ini jadi perekat hubungan antar warga.

“Semangat ibu-ibu karena di sini berjuang untuk bisa membaca menulis, warga sini sudah merasa senang Koran Pasinaon, ada Koran ibu bisa berkumpul, bisa silaturahmi. Manfaatnya belum tahu masalah masak-memasak di sini kan ada. Halaman apa yang paling senang, pengobatan saya senang, masak-memasak saya banyak yang senang.”

Rumini, wartawan Koran Pasinaon, juga dapat tambahan pendapatan dari profesi barunya.

“Ibu dapat honor 1 tulisan, 15 ribu per satu tulisan. Waktu terima uang dari hasil nulis wah seneng sekali. Kalau saya dapat penghasilan anak saya juga senang pikir saya. Ngasih uang saku anak-anak sekolah, buat belanja sehari-hari.”

Bagaimana cerita di balik pembentukan Koran Pasinaon ini di tangan ibu-ibu bekas penyandang buta huruf?

Perempuan
Dua tahun lalu, Tirta Nursari, warga Kecamatan Bergas, mendirikan Taman Baca Masyarakat Pasinaon, yang berarti ‘tempat belajar’. Saat itu warga yang buta huruf masih banyak. Dari satu kecamatan, bisa ada 100 penyandang buta huruf, sebagian besar perempuan.

Taman Baca berdiri untuk merangsang warga menyukai buku dan gemar membaca, ujar Tirta Nursari.

“Setelah anak-anak terlibat kemudian ibu-ibunya berhasil juga kita libatkan. Dari posyandu pelan-pelan ada lomba dongeng sehingga ibu-ibu sedikit banyak ada pendekatan ke arah buku. Saya mendongeng sendiri untuk anak-anak ke mereka. Ibunya mendengarkan akhirnya kita gandeng juga ibunya belajar yang belum lancar membaca.”

Perempuan jadi target utama Taman Baca. Salah satu yang tertarik bergabung adalah Isnaini, 47 tahun.

“Senang sekali bergabung. Dulu kan belum bisa membaca. Disekolahi mbak Tirta dikit-dikit. Sekarang sudah bisa. Saya ingin bisa sekolah di Pasinaon. Kalau ada pertanyaan di mana-mana kan saya ndak bingung.”

Di Jawa Tengah masih ada sekitar 7 ribu warga buta huruf. Kantong-kantong buta huruf di sana adalah Blora, Rembang, Grobogan. Di Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, ada 100-an perempuan buta huruf, dengan usia di atas 30 tahun.

Minat baca
Taman Baca Pasinaon bukan yang pertama hadir untuk melakukan upaya pemberantasan buta huruf. Tapi metode yang lain gagal mendongkrak minat ibu-ibu untuk membaca dan menulis, kata Tirta, salah satu pengajar.

“Minat baca mereka sangat minim karena media yang tersedia sangat minim untuk mereka. Buku-buku untuk keaksaraan tidak menarik, gambar hitam putih. Mereka tidak punya minat baca tapi kalau saya ajak mereka mau.”

Kini para ibu ini sudah pandai membaca dan menulis. Juga jadi wartawan Koran Pasinaon. Rumini bangga bukan kepalang dengan kesibukan barunya ini. Rohmiati juga senang. Kini ia tak lagi kesulitan membaca surat undangan pernikahan yang diterimanya.

“Kulo riyen mboten saget nopo-nopo nek entuk ulem mboten saget moco. Enten ulem mboten saget mbaca. Ya pengen ngertilah kalau ada undangan pengen bisa membaca, pengen tahu lah.”

Laporan ini disusun reporter KBR68H, Shinta Ardany untuk Radio Nederland Wereldomroep di Hilversum.

———————————————

Target Indonesia ke Piala Dunia 2022

Tim Hindia Belanda Pada Piala Dunia 1938

Tim Hindia Belanda Pada Piala Dunia 1938

PSSI mentargetkan Indonesia masuk masuk empat besar Asia tahun 2020 dan ikut putaran final Piala Dunia 2022, demikian Sekjen PSSI Nugraha Besoes.

Walau saat ini Indonesia terpuruk bahkan untuk sekedar tingkat Asia Tenggara, target PSSI itu dinilai oleh Nugraha Besoes tidak terlalu muluk.

”Ini bukan ”gawe” PSSI saja tetapi juga pemerintah harus mendukung program yang ada. Semua pihak harus terlibat,” kata Nugraha kepada Yusuf Arifin dari BBC Indonesia.

PSSI menurutnya mempunyai dua program yang saling mengisi untuk dapat memenuhi target tersebut: Visi 2020 dan Menuju Piala Dunia.

”Kita harus jadi elit dulu di Asia bersama Jepang, Korea, Australia dan beberapa negara Arab yang menjadi saingan. Setidaknya kita masuk dalam empat besar Asia tahun 2020,” tambah Nugraha.

”Insya Allah tahun 2022 kita ikut Piala Dunia.”

Dengan konsep

PSSI sedang menjalankan program Visi 2020 dengan melakukan konsentrasi pembinaan ke pemain muda dengan menggelar tiga kompetisi yang digelar secara simultan.

”Kami ada liga amatir untuk 18 tahun ke bawah, liga pendidikan untuk murid-murid sekolah dari SD hingga SMA dan liga untuk sekolah-sekolah sepakbola dan klub. Makanya kami membentuk badan pembinaan usia muda di PSSI,” kata Nugraha.

Ditegaskan oleh Nugraha bahwa walau program ini sebetulnya tidaklah baru tetapi sekarang PSSI membungkusnya dengan konsep, arah dan target yang lebih jelas.

Ia membantah kalau keterpurukan prestasi sepakbola Indonesia semata-mata dilimpahkan pada PSSI.

”Program mana yang nggak bisa dijalankan PSSI? Kompetisi jalan. Pertandingan internasional cukup. Apalagi?”

————————————————

Tekstil Taiwan Sangat Bagus , Juga Berpartisipasi dalam Piala Dunia

Teknik pembuatan tekstil Taiwan lebih bagus daripada teknik sepak bolanya , walaupun Taiwan tidak bisa berpartisipasi dalam piala Dunia 2010 , tapi diantara 32 tim yang berlaga dalam piala dunia , ada sepertiga dari kostum yang digunakan , merupakan kostum buatan Taiwan atau Made in Taiwan.Edisi Internet dari majalah 2 mingguan berbahasa Inggris Yunani “ European Business Review “ tanggal 18 Juni memuat laporan yang diberi judul Nine World Teams play in Made-in Taiwan uniforms atau 9 tim dunia bermain dengan kostum buatan Taiwan.Teknik pembuatan tekstil Taiwan yang bagus tampaknya tidak absen dalam Piala Dunia.

Termasuk tim Brazil , Holland , Portugal , Amerika , Korea Selatan , Australia , Selandia Baru , Serbia dan Slovenia , ke 9 tim piala dunia ini , semuanya menggunakan kostum buatan Taiwan.Laporan tadi yang mengutip ionformasi yang diberikan oleh panitya yang mempromosikan  hemat energi dan pengurangan karbon kabinet mengatakan , kostum buatan Taiwan ini , bahannya terbuat dari bahan yang ramah lingkungan , karena kostum ini dibuat melalui daur ulang botol plastik minuman , rata-rata setiap 8 botol minuman bisa menciptakan satu kostum.

Leave a comment

Your comment