Kliping Pekan ke-25
Kliping Pekan Ini ada di link-link berikut ini:
- http://indonesian.irib.ir/index.php/politik/opini/22868-televisi-alaqsa-dan-kisah-kebebasan-berekspresi-di-barat.html
- http://indonesian.irib.ir/index.php/berita/cakrawala-indonesia/22795-tiga-hati-dua-dunia-satu-cinta.html
- http://www.bbc.co.uk/indonesia/lg/majalah/2010/06/100617_beboaol.shtml
- http://www.bbc.co.uk/blogs/indonesia/london/2010/06/merogok-kocek-saat-piala-dunia.html
- http://www.ranesi.nl/bahasa-indonesia/category/tags-bahasa-indonesia/buta-huruf
————————————————————
Televisi Alaqsa dan Kisah Kebebasan Berekspresi di Barat
Ironis, di saat Perancis sering mendengung-dengungkan mengenai dukungannya atas kebebasan berekspresi dan pentingnya penyebaran informasi, tapi tetap saja mengambil sikap yang bertentangan. Televisi Aljazeera baru-baru ini dalam laporannya menyebut Dewan Tinggi Media Perancis mengeluarkan perintah pemutusan tayangan televisi Alaqsa milik Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas).
Setelah mengeluarkan keputusan itu, Perancis tidak ingin terlihat sendiri dituduh sebagai pelanggar hak asasi manusia terkait kebebasan berpendapat. Menurut sejumlah laporan yang telah dipulikasikan, Perancis mengajak negara-negara Eropa lainnya untuk memutuskan tayangan televisi Palestina ini di seluruh Eropa.
Tampaknya Perancis hanya ingin mengekor sikap Amerika yang telah terlebih dahulu mengambil langkah nyata dengan membekukan aset-aset televisi Alaqsa. Departemen Keuangan Amerika mengeluarkan perintah ini, karena televisi tersebut dianggap anti-Amerika. Sebelum ini, Amerika telah memasukkan nama televisi Almanar dan Alaqsa sebagai televisi anti-Amerika.
Langkah negara-negara Eropa ini menyingkap tirai kebohongan segala bentuk klaim negara-negara ini terkait kebebasan berekspresi. Namun tentu saja langkah ini perlu dicermati lebih dalam dari beberapa sudut pandang:
Pertama, negara-negara Barat menjadikan masalah hak asasi manusia dan kebebasan berekspresi sebagai alat politik guna menekan negara-negara penentangnya. Artinya, setiap kali isu HAM menguntungkan mereka, bakal dimanfaatkan secara luas dan didukung. Sebaliknya, bila tidak menguntungkan, maka dengan enteng mereka melanggarnya.
Kedua, negara-negara Barat telah membuktikan bahwa apa yang dilakukan selama ini hanya untuk menjamin kepentingan Zionis Israel. Untuk itu, mereka akan melakukan langkah apa saja demi kepentingan Zionis Israel, termasuk melanggar hak asasi manusia.
Ketiga, poin paling penting yang patut dicermati kembali pada keberhasilan muqawama dalam diplomasi lunak dan upayanya menyadarkan opini publik dunia. Sekalipun Zionis Israel dan Barat memiliki fasilitas media paling wah demi merealisasikan tujuan-tujuannya, tapi muqawama Palestina dan Lebanon berhasil membuktikan punya kapasitas luar biasa dalam memanfaatkan media demi mencapai tujuannya dan menyadarkan masyarakat internasional.
Bila menyaksikan opini publik internasional yang tampak getol mempersiapkan konvoi kapal bantuan kemanusiaan ke Gaza, kenyataan ini membuktikan keberhasilan media-media muqawama Palestina. Itu berarti kekalahan lain rezim Zionis Israel di bidang media, di samping mampu menyadarkan masyarakat internasional akan hakikat Palestina.
Berdasarkan hal ini, dapat dikatakan bahwa langkah-langkah negara-negara Barat menekan televisi satelit Alaqsa lebih membuktikan kegagalan dan ketidakmampuan negara-negara ini menghadapi media dan budaya muqawama. Namun langkah yang mereka ambil ini tanpa sadar menjadi senjata makan tuan. Karena sikap ini menjadi faktor lain yang justru menarik opini publik internasional untuk lebih memperhatikan masalah Palestina.
Kinerja dan sikap Barat ini juga dapat disebut sebagai tanda-tanda kemenangan muqawama atas rezim Zionis Israel dalam perang media. Berangkat dari kesadaran opini publik dunia terkait transformasi Palestina dan Intifada kapal-kapal bantuan kemanusiaan ke Gaza.(IRIB/SL/MF)
———————————
Tiga Hati, Dua Dunia, Satu Cinta

Kisah cinta adalah tema yang abadi. Meskipun sama-sama berbicara masalah dua hati, selalu ada begitu banyak hal yang bisa diceritakan di dalamnya. Ya, setiap zaman, masyarakat dan kebudayaan selalu memiliki aturan main yang berbeda. Akibatnya, persinggungan antarkebudayaan atau bahkan agama tak jarang menimbulkan permasalahan di dalam kisah percintaan.
Ini juga terjadi pada kisah cinta Rosid, seorang pemuda Muslim keturunan Arab di tanah Betawi, dan Delia, gadis Kristen berparas jelita. Keduanya jelas saling mencintai. Tapi, perbedaan di antara keduanya sudah pasti akan menghalangi niat mereka untuk menyatukan diri dalam pernikahan. Namun, seperti kata pepatah, cinta akan selalu menemukan jalannya. Hanya saja, bagaimana cinta mereka bisa menemukan jalan berbuah kebahagiaan?
Rosid dan Delia tak sekadar menuturkan masalah percintaan. Lebih dari itu, Rosid dan Delia juga menyinggung pemahaman keberagamaan yang lebih luas dan mencerahkan. Film yang diangkat dari novel Da Peci Code memberikan sebuah wawasan baru mengenai cinta dan perbedaan di dalamnya.
Rosid adalah seorang pemuda Muslim yang idealis dan terobsesi menjadi seniman besar seperti WS Rendra. Gaya seniman Rosid dengan rambut kribonya membuat Mansur, sang ayah, gusar karena tidak mungkin bagi Rosid untuk memakai peci.
Padahal peci-bagi Mansur-adalah lambang kesalehan dan kesetiaan kepada tradisi keagamaan. Bagi Rosid, bukan sekadar kribonya yang membuatnya tidak mungkin memakai peci, melainkan karena Rosid tidak ingin keberagamaannya dicampur-baur oleh sekadar tradisi leluhur yang disakralkan.
Ternyata tongkrongan seniman Rosid membawa berkah juga. Delia, seorang gadis Katolik berwajah manis, kepincut pada sosok Rosid. Tentu saja ini hubungan yang nekad . Rosid terlahir dari keluarga keturunan Arab-Muslim yang masih taat memegang teguh tradisi leluhurnya. Sementara Delia terlahir dari keluarga Manado-Katolik yang juga sangat taat beribadah.
Rosid dan Delia adalah dua anak muda yang rasional dalam menyikapi perbedaan. Tapi orang tua mana yang rela dengan kisah cinta mereka. Maka mereka pun mencari cara untuk memisahkan Rosid dan Delia. Jurus Frans dan Martha, orang tua Delia, adalah dengan mencoba mengirim Delia sekolah ke Amerika. Berbeda lagi dengan Mansur.
Muzna, ibunda yang sangat dihormati Rosid, pun turun tangan. Sang Ibu dengan bantuan Rodiah, adik suaminya, menjodohkan Rosid dengan Nabila, gadis cantik berjilbab yang ternyata mengidolakan Rosid, sang penyair.
Memang, cinta Rosid dan Delia begitu kuat, tapi sekuat itu juga tantangannya. Selain perbedaan agama ternyata ada beban psikologis yang harus dihadapi jika mereka meneruskan hubungan itu hingga ke ikatan pernikahan.
Meski akhirnya kedua orangtua mereka memberi kebebasan memilih, Rosid dan Delia justru memutuskan tidak melanjutkan hubungan mereka karena sadar hal itu akan melukai orang-orang yang mereka cintai. Rosid dan Delia memilih hanya bersahabat.
Mizan Makin Cemerlang
Mizan Production makin lihai saja dalam menelurkan film hiburan yang berpeluang laris di pasar. Setelah sukses dengan Laskar Pelangi dan Emak Ingin Naik Haji, kini Mizan menghidangkan “sup ayam hangat” baru untuk penonton Indonesia dengan menu gado-gado dari puisi W.S. Rendra, komedi peci, dan cinta beda agama dalam film Tiga Hati, Dua Dunia, Satu Cinta. Film ini akan hadir di bioskop pada awal bulan depan.
Film yang semula diberi judul Komidi Putar ini diangkat dari Da Peci Code serta Balada Rosid dan Delia, dua novel karya Ben Sohib. Sutradara Benni Setiawan kemudian mengadaptasinya ke layar lebar dengan membongkar naskahnya di sana-sini dan memasukkan berbagai unsur baru. “Kesamaan cerita dengan novelnya memang hanya 40 persen,” kata Benni.
Film ini sebenarnya mengangkat masalah cinta beda agama, tema kontroversial yang sudah pernah muncul di film lain, seperti Cin[t]a karya sutradara muda Sammaria Simanjuntak pada 2009. Film drama independen bikinan mahasiswa Institut Teknologi Bandung itu mengangkat kisah cinta antara Cina, mahasiswa baru keturunan Tionghoa, dan Annisa, mahasiswi muslim.
Film Tiga Hati juga mempertemukan dua hati yang berbeda keyakinan: Rosid (Reza Rahadian), pemuda muslim, dan Delia (Laura Basuki), gadis Manado penganut Katolik yang taat. Sepasang kekasih ini harus menempuh jalan berliku untuk memperjuangkan cinta mereka. Batu sandungan bukan hanya datang dari keluarga masing-masing, tapi juga kehadiran seorang gadis cantik berjilbab.
Rosid adalah pemuda Betawi nyentrik keturunan Arab yang digambarkan sebagai seniman kribo yang idealis dan terinspirasi menjadi penyair besar sekaliber W.S. Rendra. Gayanya yang cuek dan dandanannya yang tak Islami membuat sang ayah, Manysur (Rasyid Karim), selalu naik pitam.
Persoalannya sederhana: tak ada peci yang muat untuk rambut kribo Rosid. Padahal, bagi Mansyur, peci adalah lambang kesalehan dan kesetiaan kepada Islam. Mansyur memaksa Rosid selalu berpeci ke mana-mana, karena begitulah seharusnya adat seorang muslim Betawi.
Soal peci belum beres, Rosid malah bikin masalah baru dengan memacari Delia. Kedua orang tua Rosid dan Delia pun putar otak untuk memutus hubungan nekat itu. Orang tua Rosid, Mansyur dan Muzna (Henidar Amroe), menjodohkan si kribo dengan Nabila (Arumi Bachsin), muslimah cantik yang juga mengidolakan puisi-puisi Rosid. Adapun Frans (Robby Tumewu) dan Martha (Ira Wibowo), orang tua Delia, berupaya mengirim anak semata wayangnya bersekolah ke Amerika Serikat.
Pada saat ego orang tua bertakhta, Rosid dan Delia tak mau menyerah. Singkat kata, beberapa peristiwa terjadi, yang pelan-pelan meluluhkan hati orang tua mereka dan membuat mereka mencoba berdamai dengan anak masing-masing. Nah, ketika ego sudah luluh, eh, malah hati Rosid dan Delia yang bimbang. “Apa artinya jika cinta kita bahagia tapi banyak orang yang kita sayangi menangis,” ucap Delia bersimbah air mata.
Mengenang WS Rendra
Ada banyak ide tertuang dalam film ini. Setelah Benni mengantongi ide dari dua novel tersebut, Mizan pun berkeinginan mengenang W.S. Rendra melalui media ini. “Aslinya, Rosid adalah wartawan. Tapi, dalam proses produksi, Mizan ingin ada pesan mengenang Rendra,” kata Benni. Maka, jadilah Rosid si penyair kribo. Porsi syair-syair Rendra dalam film ini pun terlihat dikebut di bagian penutup film, sehingga terkesan dipaksakan.
Permainan pasangan Reza Rahadian-Laura Basuki kali ini tampil cukup baik. Kemunculan Laura sebagai pendatang baru yang dipercaya memerankan tokoh utama menandakan peningkatan perannya, yang selama ini mentok pada jabatan pemeran pembantu. Adapun Reza, aktor yang menerima penghargaan Pemeran Pendukung Pria Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2009 lewat Perempuan Berkalung Sorban, malah berakting standar saja.
Setelah dua debut filmnya yang konsisten dengan genre drama romantis, yakni Bukan Cinta Biasa dan Cinta Dua Hati, Benni Setiawan masih percaya diri memilih genre serupa untuk film terbarunya yang mengulik persoalan cinta beda agama. “Genre ini bisa hidup dan disukai semua orang dan di era kapan pun. Saya akan terus konsisten dengan genre ini,” katanya.
Namun, berbeda dari film sebelumnya, tema film terbarunya ini kontroversial tapi, “Saya mengambil jalan aman untuk akhir cerita,” katanya. Menurut Benni, keputusan ini dilakukan agar sesuai dengan jalan cerita di novel, sehingga jalan tengah pun diambil Rosid dan Delia. Sebagian penonton boleh jadi akan kecewa karena penutupnya jadi kurang gereget.
Syuting film ini memakan waktu empat bulan dan dilakukan di Bogor. “Kendalanya hanya cuaca yang tak menentu. Saat itu di Bogor sering hujan,” katanya. Harapan Benni, film ini mampu menarik perhatian penonton tak hanya yang beragama muslim, tapi lebih luas lagi. (Mizan/Tempointeraktif/IRIB/AR)
——————————————-

Bebo berjuang keras untuk menyaingi Facebook
Perusahaan internet AOL menjual Bebo, situs jejaring sosial yang dibeli dua tahun lalu senilai 850 juta dolar.
Sebuah perusahaan investasi kecil Criterion Capital Partners mengumumkan telah membeli Bebo tetapi tidak mengungkapkan nilai transaksi.
Meskipun demikian para pengamat mengisyaratkan jumlahnya hanya sebagian dari harga yang dibayar AOL tahun 2008.
Sejak saat itu Bebo berjuang keras dengan jejaring sosial lain seperti Facebook.
Permulaan tahun ini AOL mengumumkan rencana menjual atau menutup Bebo karena tidak mampu memberikan “investasi yang berarti” untuk menyelamatkan perusahaan tersebut.
Wartawan masalah teknologi BBC Rory Cellan-Jones mengatakan keputusan AOL membeli Bebo adalah “salah satu kesepakatan terburuk zaman dotcom“.
“Kesepakatan dilakukan beberapa tahun setelah kehancuran dotcom yang seharusnya dapat menjadi pembelajaran,” katanya.
“Yang menarik adalah pendirinya Michael Birch mendapatkan 300 juta dolar.”
Pengguna aktif
Masih belum jelas rencana Criterion Capital terhadap Bebo. Perusahaan tersebut belum memberikan rincian lebih lanjut.
Tetapi pemilik baru diduga melihat sejumlah peluang bisnis yang berarti.
Markas Bebo tetap akan berada di San Fransisco, paling tidak untuk jangka pendek, tetapi ada kemungkinan PHK.
Pejabat Criterion Capital Adam Levin mengatakan banyak terdapat hal positif.
“Generasi muda, pengguna aktif, sejarah keuntungan, kehadiran di sejumlah negara dan infrastruktur teknis yang kuat merupakan suatu dasar media yang menarik,” katanya.
—————————————————
Merogoh kocek saat Piala Dunia
Kalau anda nonton Piala Dunia, di cafe atau di rumah?
Kalau anda nonton bareng di cafe, coba hitung biaya transport ke sana berapa rupian dan masak sih masuk di café tak beli jajanan atau minuman. Sedang kalau nonton di rumah, di meja ada kacang goreng, pisang goreng? Terus minum apa: kopi, teh, minuman kaleng atau botol.
Terus kalau nanti pertandingan sedang berjalan pakai saling kirim SMS ke kawan nggak. Berbagi komentar atau saling mengejek kalau berbeda dim dukungan. Apakah SMS yang anda kirim lebih banyak dari biasanya?

Para penonton asal Eropa yang datang ke Afrika Selatan, misalnya, sudah diwanti-wanti kalau tarif telepon genggam di negara itu amat mahal. Biasalah orang sekarang foto-foto pakai telepon canggihnya terus langsung dipamer di Facebook, pakai Blackberry atau Iphone. Jauh-jauh ke Afrika Selatan bukan cuma untuk nonton bola, juga sedikit pamerlah, membuat kawan di kampung sedikit cemburu.
Kecenderungan itu dipahami betul, dan sepekan sebelum Piala Dunia dimulai, lembaga konsumen Inggris, Consumer Focus, mengingatkan kalau pakai nomor telepon Eropa di Afrika Selatan dan mengunduh sepuluh foto lewat telepon genggam, maka akan kena £ 80 atau sekitar Rp 1,2 juta.
Di jaman modern ini pesta olahraga apapun memang tak lepas dari bisnis, dari ekonomi, dari kantong. Untuk Piala Dunia, bukan hanya di negara penyelenggara saja rangsangan ekonomi terasa, juga di negara-negara yang timnya tidak tampil. Sejumlah media, termasuk BBC Indonesia, sampai menurunkan laporan khusus.
Apalagi di Inggris, yang gila bola dan berharap banyak dari timnya.
Walau ditahan imbang 1-1 oleh Amerika Serikat, dan kemudian seri lagi 0-0 dengan Aljazair, tetap saja banyak pengusaha yang berharap Inggris menang-menang terus sampai ke final dan meraih Piala Dunia 2010. Selain sebagai pendukung sepakbola, para pengusaha ya tetap saja pengusaha dan semakin lama Inggris bertahan di Piala Dunia maka semakin besar potensi pemasukan dari bisnis mereka.
Berdasarkan sebuah penelitian, maka warga Inggris selama Piala Dunia menyediakan dana untuk jajanan, minuman -sebagian besar bir dan alkohol lainnya- bendera, dan taruhan di rumah judi. Perusahaan riset pasar Inggris, Mintel, yang melakukan penelitian atas 2.000 orang Inggris sekitar sebulan sebelum Piala Dunia menemukan 63% siap merogoh kocek lebih dalam saat Piala Dunia.
Sebanyak 23% mengatakan pengeluaran ekstra itu untuk berjudi di rumah taruhan sedangkan 31% untuk membeli alkohol.
Dan alkohol merupakan salah satu ajang perang supermarket karena masing-masing menurunkan harga dengan harapan volume yang meningkat akan mengkatrol pemasukan. Kantor Statisik Nasional Inggris menyebutkan secara rata-rata harga bir di supermarket Inggris turun sampai 3%.

Selain alkohol, harga TV juga turun, sekitar 10% dalam periode 12 bulan sejak Mei tahun lalu. Biasalah, banyak orang yang menjadikan Piala Dunia untuk membeli layar tipis atau High Definition TV. Salah satu raksasa supermarket Inggris, Tesco, mengatakan sepanjang Mei, penjualan TV layar lebar untuk merek-merek utama sampai meningkat 100%. Sedangkan bendera terjual 800.000 helai, baik yang kecil maupun yang besar.
Tapi pendengar, ada juga potensi dampak negatifnya. Survei yang dilakukan situs rumah judi Betfair awal Juni ini menyebutkan 32% pekerja Inggris memilih bolos untuk menyaksikan pertandingan-pertandingan yang mereka anggap penting -ya sudah pastilah yang ada Inggris dan semi final serta final. Mereka akan pura-pura sakit dan berdasarkan perbedaan jam, pertandingan di Afrika Selatan akan berlangsung sekitar tengah hari dan malam hari di Inggris.
Makanya muncul seruan, agar para pekerja boleh nonton di kantor. Daripada kehilangan satu hari jam kerja, kan lumayan bekerja setengah hari baru nonton di TV kantor, sehingga kalau ada apa-apa masih bisa tetap diperintah, masih bisa diminta kerja.
Bagaimanapun Institut Sumber Daya dan Pengembangan Inggris -yang antara lain bergerak dalam bidang pengembangan sumber daya manusia di tempat kerja- menyarankan perusahaan menawarkan cuti saja kepada para penggemar bola berat. Jadi bisa diketahui pasti berapa yang sebenarnya masuk saat Piala Dunia berlangsung.
Nah pendengar, mungkin anda pingin tahu juga, terus di kantor saya bagaimana? Wah, saya kan wartawan, jadi menonton bola itu termasuk bagian dari tugas juga. Ahem…
(Sumber: http://www.bbc.co.uk/blogs/indonesia/london/2010/06/merogok-kocek-saat-piala-dunia.html )
Catatan:
Tentang blog ini
Blog dari London ditulis oleh wartawan BBC Indonesia di seputar isu yang menjadi perhatian masyarakat di London dan Inggris pada umumnya berdasarkan perspektif pribadi produser bersangkutan.
————————————————
Dulu Buta Huruf, Kini Wartawan

Jawa Tengah punya angka buta buruf yang tinggi, termasuk tiga besar angka buta huruf se-Indonesia. 60% di antaranya adalah perempuan, tinggal di pedesaan, minim akses ekonomi dan informasi.
Di Kabupaten Semarang, upaya memberantas angka buta huruf dilakukan dengan cara unik, yaitu membuat Koran Pasinaon. Wartawannya adalah ibu-ibu yang dulunya buta huruf.
Wartawan koran ini adalah ibu-ibu paruh baya. Dulu, mereka buta huruf. Kini, mereka handal menulis artikel untuk Koran Pasinaon.
Curhat warga
Koran Pasinaon terbit awal 2010. Meski namanya koran, terbit hanya sebulan sekali, dengan tebal sepuluh halaman. Uniknya, sebagian isi koran berupa tulisan tangan dari wartawannya. Isinya dari berita utama, surat pembaca, tips masak sampai curhat warga.
Tirta Nursari adalah pengajar di Taman Baca Pasinaon, cikal bakal Koran Pasinaon.
“Kontribusi tulisan sudah banyak. Seperti Bu Rumini, produktif untuk puisi. Semua edisi adalah tulisan dia. Saya lagi memotivasi yang lain menulis puisi, tapi belum. Kontribusi kedua tips kesehatan, masak-masak, suara perempuan ala mereka.”
Sugimah, nenek 12 cucu ini, aktif memasok tips memasak. Tips ditulis dari pengalaman masaknya sehari-hari.
“Membuat kue lapis. Bahannya 1 kilogram tepung beras, setengah kilogram tepung pati, 1 kilogram gula pasir, gula kelapa, dikukus 1 gelas. Kalau sudah dilihat sudah halus, dikasih lagi 1 gelas. Kalau sudah halus dikasih lagi. 1 loyang 16. Niki mbahe yang sudah pernah masak ini terus mbah tulis lagi untuk dimasukkan koran. Pokonya mbahe nulis..ya mau..”
Siapa pun bisa mengusulkan tulisannya masuk Koran Pasinaon. Tinggal datang ke kantor redaksi, jelas Tirta Nursari.
“Kami sediakan kotak di situ. Ada box plastik. Kalau saya tidak ada di rumah, mereka mau kirim tulisan, silakan masukkan di situ. Tapi kalau saya ada penugasan, ada liputan apa dan harus dibikin konsep wawancara mereka agak bingung membuatnya. Bikin di sini, kita beri media bikin seperti ini mereka nulis di sini juga.”
Tak lulus SD
Rumini wartawan terbaik Koran Pasinaon. Perempuan 43 tahun ini tidak lulus SD, dulu tidak lancar membaca dan menulis.
“Saya merasa senang sekali karena selain ketemu sama pejabat-pejabat besar bertemu orang luar. Saya rasa dengan hangatnya mereka menerima saya. Jadi nggak ada masalah. Saya rasa biasa saja seperti ketemu mbak Ita atau teman-teman yang lain.”
Tak mudah melatih ibu-ibu paruh baya ini kembali belajar membaca dan menulis. Salah satu pengajar di Taman Baca Pasinaon Musarofah bercerita, kendala tersulit adalah komunikasi.
Semangat baru
Koran Pasinaon kini jadi semangat baru bagi ibu-ibu bekas penyandang buta huruf di Kabupaten Semarang. Setiap hari mereka rajin datang ke kantor redaksi, berlomba-lomba mengirimkan tulisan. Masyarakat juga senang. Setiap bulan, koran terbit sebanyak 1000 eksemplar, gratis bagi siapa pun yang mau membaca.
Fatimah, tokoh perempuan di Kecamatan Bergas mengatakan, media ini jadi perekat hubungan antar warga.
“Semangat ibu-ibu karena di sini berjuang untuk bisa membaca menulis, warga sini sudah merasa senang Koran Pasinaon, ada Koran ibu bisa berkumpul, bisa silaturahmi. Manfaatnya belum tahu masalah masak-memasak di sini kan ada. Halaman apa yang paling senang, pengobatan saya senang, masak-memasak saya banyak yang senang.”
Rumini, wartawan Koran Pasinaon, juga dapat tambahan pendapatan dari profesi barunya.
“Ibu dapat honor 1 tulisan, 15 ribu per satu tulisan. Waktu terima uang dari hasil nulis wah seneng sekali. Kalau saya dapat penghasilan anak saya juga senang pikir saya. Ngasih uang saku anak-anak sekolah, buat belanja sehari-hari.”
Bagaimana cerita di balik pembentukan Koran Pasinaon ini di tangan ibu-ibu bekas penyandang buta huruf?
Perempuan
Dua tahun lalu, Tirta Nursari, warga Kecamatan Bergas, mendirikan Taman Baca Masyarakat Pasinaon, yang berarti ‘tempat belajar’. Saat itu warga yang buta huruf masih banyak. Dari satu kecamatan, bisa ada 100 penyandang buta huruf, sebagian besar perempuan.
Taman Baca berdiri untuk merangsang warga menyukai buku dan gemar membaca, ujar Tirta Nursari.
“Setelah anak-anak terlibat kemudian ibu-ibunya berhasil juga kita libatkan. Dari posyandu pelan-pelan ada lomba dongeng sehingga ibu-ibu sedikit banyak ada pendekatan ke arah buku. Saya mendongeng sendiri untuk anak-anak ke mereka. Ibunya mendengarkan akhirnya kita gandeng juga ibunya belajar yang belum lancar membaca.”
Perempuan jadi target utama Taman Baca. Salah satu yang tertarik bergabung adalah Isnaini, 47 tahun.
“Senang sekali bergabung. Dulu kan belum bisa membaca. Disekolahi mbak Tirta dikit-dikit. Sekarang sudah bisa. Saya ingin bisa sekolah di Pasinaon. Kalau ada pertanyaan di mana-mana kan saya ndak bingung.”
Di Jawa Tengah masih ada sekitar 7 ribu warga buta huruf. Kantong-kantong buta huruf di sana adalah Blora, Rembang, Grobogan. Di Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, ada 100-an perempuan buta huruf, dengan usia di atas 30 tahun.
Minat baca
Taman Baca Pasinaon bukan yang pertama hadir untuk melakukan upaya pemberantasan buta huruf. Tapi metode yang lain gagal mendongkrak minat ibu-ibu untuk membaca dan menulis, kata Tirta, salah satu pengajar.
“Minat baca mereka sangat minim karena media yang tersedia sangat minim untuk mereka. Buku-buku untuk keaksaraan tidak menarik, gambar hitam putih. Mereka tidak punya minat baca tapi kalau saya ajak mereka mau.”
Kini para ibu ini sudah pandai membaca dan menulis. Juga jadi wartawan Koran Pasinaon. Rumini bangga bukan kepalang dengan kesibukan barunya ini. Rohmiati juga senang. Kini ia tak lagi kesulitan membaca surat undangan pernikahan yang diterimanya.
“Kulo riyen mboten saget nopo-nopo nek entuk ulem mboten saget moco. Enten ulem mboten saget mbaca. Ya pengen ngertilah kalau ada undangan pengen bisa membaca, pengen tahu lah.”
Laporan ini disusun reporter KBR68H, Shinta Ardany untuk Radio Nederland Wereldomroep di Hilversum.



hi nice blog2
We’ve come too far to renege to the demands of the democratic fringe!
An impressive share, I just passed this onto a colleague who was doing a little analysis on this. And he in fact bought me breakfast because I found it for him.. smile. So let me reword that: Thnx for the treat! But yeah Thnkx for spending the time to discuss this, I feel strongly about it and love reading more on this topic. If possible, as you become an expert, would you mind updating your blog with more details? It is very helpful for me. Big thumb up for this blog post!
Right here you find a whole lot of hyperlinks to different dating begin meet teens lolitas mature grannys milf lolli pop teenagers.Get free6 and Join V.I.P areas, where you can camchat and meet teens lolitas mature grannys mom bushy teenagers lolitas midgets all stuff you ever going to need. free6 with V.I.P treatment with special items internal.