Misi Besar Penerbit Islam

IRIBPara pegiat di ranah penerbitan merupakan mata rantai yang mengaitkan ilmuwan dan penulis dengan publik. Sementara buku sebagai karya kultural yang paling berharga merupakan hasil dari interaksi tersebut.

Sebagaimana sektor lainnya, dunia penerbitan juga memerlukan jalinan kerjasama dan interaksi yang luas. Dengan kata lain, para penggerak dunia penerbitan hanya akan berhasil mencapai kesuksesan jika di antara mereka terjalin hubungan yang erat dan progresif. Kerjasama dan pertukaran pemikiran dan informasi di tingkat nasional, regional, dan internasional merupakan salah satu mekanisme efektif untuk menghasilkan prestasi positif di ranah penerbitan. Karena itu tidak heran jika belakangan ini banyak bermunculan pelbagai organisasi yang menghimpun para pegiat penerbitan dan berbagai anasir terkait.

Ranah penerbitan di dunia Islam merupakan bagian penting dari masyarakat penerbitan internasional. Meski menyimpan banyak potensi dan kemampuan yang tinggi, namun interaksi dunia penerbitan di lingkungan negara-negara Islam belum tergarap secara maksimal dan masih terasa adanya jarak lebar yang perlu dieratkan. Perlunya upaya untuk saling mengenal di antara sesama penerbit dunia Islam dan mengusahakan langkah kooperatif yang sistematis untuk mencapai tujuan bersama merupakan misi yang diusung dalam Konferensi Internasional Penerbit Dunia Islam yang digelar beberapa hari lalu di Tehran.

Untuk pertama kalinya, Konferensi Internasional Penerbit Dunia Islam untuk digelar. Konferensi itu diselenggarakan 20 hingga 21 Juni lalu di Tehran dan dihadiri lebih dari 60 penerbit, penulis dan penerjemah muslim lebih dari 30 negara dunia, termasuk dari Indonesia dan penerbit Islam dari negara-negara non-muslim seperti Inggris, Rusia, Cina, dan Afrika Selatan.

Dalam konferensi ini, selain dilaksanakan sidang umum, juga membahas beragam makalah mengenai kemampuan dan potensi penerbitan muslim dan tantangan yang dihadapinya. Di samping itu, konferensi tersebut juga menggelar rangkaian seminar tematik yang membahas secara khusus tema tertentu seperti penerbitan Al-Quran dan pengetahuan Al-Quran, penerbitan elektronik di dunia Islam, hak-hak penulis dan penerjemah di dunia Islam, serta pencarian tema pemikiran dan budaya yang diperlukan masyarakat muslim.

Sekjen Konferensi Internasional Pertama Penerbit Dunia Islam, Ali Zarei Najafdari menyatakan bahwa tujuan digelarnya konferensi ini untuk mengaktualisasikan potensi penerbit dunia Islam dalam merealisasikan tujuan luhur Al-Quran dan para pemimpin agama. Dia menambahkan, “Digelarnya konferensi ini semakin menampakkan betapa pentingnya aktifitas penerbitan dan peran positifnya dalam membangun persatuan Islam. Di samping itu, pertemuan internasional ini juga membuka kesempatan tepat untuk mengkaji tantangan yang dihadapi penerbit dunia Islam”.

Buku terbilang sebagai karya budaya yang paling bernilai lantaran bisa dijadikan sebagai perangkat penting dalam menggerakkan umat Islam dan membangun kemajuan. Buku merupakan salah satu perangkat komunikasi antar pemikiran yang paling hidup dan dinamis. Jika sebuah pemikiran terpelihara dalam buku maka pemikiran tersebut berpeluang tidak akan hilang ditelan waktu dan terus terabadikan.

Di samping penulisan, penerbitan dan membaca merupakan mata rantai lain aktivitas kebudayaan yang paling berpengaruh dan memegang andil penting dalam memajukan pola pikir masyarakat.

Misi utama yang ditempuh Konferensi Internasional Pertama Penerbit Dunia Islam untuk menghimpun para penerbit muslim dan membangun jalinan interaksi yang erat di antara mereka merupakan langkah awal untuk membentuk sebuah organisasi.

Tentu saja, misi yang diemban para penerbit Islam bukan sekedar mencetak dan menerbitkan buku, tapi juga memikul tanggung jawab yang lebih besar yaitu menyebarkan pemikiran Islam di kancah global dan menangkal pelbagai pandangan anti-Islam. Poin inilah yang digariskan oleh Presiden Republik Islam Iran Mahmoud Ahmadinejad dalam sambutannya di pembukaan konferensi. Ia menegaskan, “Misi pertama dari menginternasionalkan terbitannya adalah untuk menghadang pandangan keliru Barat tentang Islam”.

Presiden Ahmadinejad juga mengajak para penerbit untuk turut peduli menentang gerakan Islamofobia yang kian marak di berbagai belahan dunia. Ia menyebut gerakan semacam itu pada gilirannya akan menjadi gerakan anti-agama, karena tak hanya Islam yang diserang, tetapi juga Kristen.

Senada dengan Ahmadinejad yang memperingatkan umat Islam untuk waspada terhadap penyebaran pemikiran Barat, Ketua Dewan Syuro Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (Ijabi). Dr. Jalaluddin Rakhmat memaparkan isu revolusi buku elektronik atau e-book dan kaitannya dengan gerakan kapitalisme. Ia menilai, produksi dan distribusi buku elektronik yang hanya dimonopoli oleh para pemodal besar Barat rentan dimanfaatkan untuk disusupi muatan buku yang hanya menyuarakan pemikiran Barat.

Sementara itu, Menteri Kebudayaan dan Bimbingan Islam Republik Islam Iran, Sayyid Mohammad Hosseini menyatakan, penyelenggaraan Konferensi Internasional Pertama Penerbit Dunia Islam akan memperkokoh ikatan umat Islam di seluruh dunia. Ia mengatakan, pertemuan ini merupakan sarana untuk memperluas hubungan, sekaligus memperkokoh ikatan antarpenerbit dunia Islam.
Di bagian lain statemennya, ia mengungkapkan, penerbit-penerbit muslim memiliki berbagai kesamaan yang bisa memperkokoh peran kolektif umat Islam di dunia penerbitan buku internasional.


Abdullah Hanafi, wakil Mesir dalam konferensi penerbit Islam saat menyinggung soal peran pemikiran dan buku dalam membangun kedewasaan masyarakat menuturkan, “Kini penerbit memiliki posisi yang luhur sebagai mata rantai yang menyambungkan penulis dan peneliti dengan masyarakat. Jika kita memberikan perhatian tentang pemikiran dan buku, kita pun akan bisa menggapai kemajuan”.

Di sisi lain, Abdul Halim, utusan dari Suriah menyoroti masalah pentingnya memanfaatkan perangkat modern untuk mengembangkan potensi penerbitan dunia Islam. Ia memaparkan, “Selain berupaya memperluas riset dan produksi pemikiran, perlu juga diupayakan untuk memanfaatkan perangkat modern untuk memajukan dunia penerbitan dan pembelaan terhadap hak-hak pegiat penerbitan. Kini urgensi penerapan aturan hak cipta dan pembuatan undang-undang untuk mencegah terjadinya pencurian budaya semakin dirasa makin perlu dilakukan”.

Ketua Organisasi Budaya dan Hubungan Islam Iran, Mehdi Mostafavi adalah salah seorang pembicara lainnya dalam konferensi. Dalam orasinya, ia menekankan pentingnya penerjemahan Al-Quran dalam berbagai bahasa di dunia dan menyatakan, “Landasan pemikiran dan pergerakan kami di Republik Islam Iran adalah ajaran dan nilai-nilai Al-Quran. Karena itu, wajar jika seluruh kegiatan kita berpusat pada Al-Quran”.

Lebih lanjut ia menambahkan, “Salah satu peluang yang bisa kita manfaatkan untuk menyebarkan nilai-nilai Al-Quran kepada dunia adalah melalui penerjemahan kitab suci ini ke dalam berbagai bahasa. Karena itu penerjemahan dan tafsir Al-Quran merupakan salah satu isu penting yang perlu digarap di dunia penerbitan dan lantaran isu ini memiliki sensitivitas tinggi, maka perlu dijadikan sebagai prioritas utama penerbit muslim di seluruh dunia”. (IRIB/LV/NA)

Leave a comment

Your comment